Bedanya Orang Cerdas dengan tidak….?

✍️ Ditulis :
🔄 Diperbaharui :

Kalau dari yang ku amati, perbedaannya itu paling terasa di conecting the dot.

———

Conecting the dot ini kalau diurai unsur-unsurnya :

1. Dot yang banyak

Artinya dia harus mengekplorasi banyak hal. Pengetahuannya luas.

2. Kecepatan menghubungkan antar dot

Speed nya kencang untuk menghubungkan antar dot.

———

Contoh :

Elon Musk itu selalu rajin membaca. Bahkan membaca yang bukan bidang dan minatnya. Supaya apa?

Wawasan luas. Dot nya menjadi banyak. Diatas rata-rata.

 

Kecepatan menghubungkan antar dot ini seperti kecepatan daya tangkap.

Semisal ada 2 anak. Umur sama, dibesarkan dengan cara yang sama.

  • si A.
  • si B.

Hari ini mereka diajari pelajaran baru. Benar-benar baru, mereka tidak mengenal hal itu seumur hidup mereka.

Setelah diajarkan, di B lebih cepat nangkap.

A dan B diberi dot yang sama. Let say katakan 20 dots.

Tapi kenapa B lebih cepat nangkap? karena B kecepatan menghubungkan antar dot nya fast.

———

Cara melatih?

Supaya punya dot yang banyak?

  • Banyak membaca buku, video membuka wawasan
  • banyak diperkenalkan hal-hal yang ada di bumi
  • Rasa curious yang tinggi

Tentu disiini yang punya keuntungan tinggi adalah yang punya orang tua CERDAS + BANYAK KONEKSI.

Dia bisa membelikan banyak buku. Menyekolahkan dan bergaul di tempat elit. Diajak hal-hal non mainstream seperti menembak, berkuda,

dan di dukung rasa curious tinggi dari internal dirinya.

 

Supaya cepat menghubungkan dot?

Sebenarnya aku agak kurang yakin sekarang apa hal pastinya…

Tebakan ku saat ini :

ini bicara hardware tubuh.

Bawaan lahir, ada gen nya. Talenta bawaan.

Ini mirip seperti menjawab pertanyaan : bagaimana cara melatih anak kecil biar berbakat kayak messi saat kecil dulu?

Karena itulah orang tidak bisa meniru Messi yang lahir dengan talenta. Tapi bisa men-copy pola latihan CR7.

Kalau benar ini soal hardware, maka optimasinya :

  • dilahirkan oleh wanita cerdas (karena kecerdasan turun dari ibu – minimal blueprint)
  • dioptimalkan saat hamil, seperti kebiasaan orang Yahudi (https://www.idntimes.com/life/women/fera/9-kebiasaan-unik-wanita-yahudi-ketika-hamil)

—-

Ajari anak dengan realitas, dan ajarkan cara bermimpi tinggi

Bukan ->

Diajari dengan halusinasi, lalu dibatasi bermimpi karena realita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *